Sabtu, 15 Juli 2017

Permainan Tradisional Ancong-Ancong

Latar Belakang Permainan :

Ancong-ancong adalah sebutan bagi orang Yamdena untuk sebuah permainan menebak salah satu tangan pemain yang berada di atas punggung pemain lainnya yang sedang dalam posisi merangkak. Permainan ini terdapat di sekitar Kepulauan Tanimbar, daerah Maluku Utara, Indonesia, khususnya Pulau Yamdena, Selaru, Seira, Angwarmase dan Fordata. “Ancong-ancong” berasal dari bahasa Yamdena, yang dalam bahasa Indonesia sangat sulit untuk diterjemahkan. Permainan ancong-ancong menurut penduduk Yamdena, telah ada dan dimainkan sejak tahun 1930-an. Pada waktu itu, di daerah Yamdena masih banyak keluarga yang hidup dalam satu rumah besar. Setiap rumah besar umumnya dihuni oleh 6 hingga 7 keluarga yang biasanya mempunyai banyak anak. Pada waktu malam hari, biasanya anak-anak dari beberapa keluarga tersebut akan berkumpul menghabiskan waktu luang mereka dengan bermain di dalam rumah. Salah satu permainan yang mereka lakukan adalah ancong-ancong.

Peserta Permainan:

Permainan ancong-ancong biasanya dimainkan oleh anak-anak, baik lelaki maupun perempuan, usia 5 hingga 8 tahun. Permainan ini minimal dimainkan oleh 5 anak dan maksimal 10 anak. Apabila pesertanya lebih dari 10 anak, permainan tidak akan berjalan lancar, sebab umumnya permainan ini dilakukan di dalam rumah.

Umur :
Permainan ini sebenarnya tidak mengenal umur tetapi biasanya dimainkan oleh anak kecil berumur 5-8 tahun.

Jenis Kelamin :
Bisa dimainkan oleh anak laki-laki maupun perempuan tidak dibatasi jenis kelamin.

Jumlah Pemain :
Permainan ini minimal dimainkan oleh 5 anak dan maksimal 10 anak. Apabila pesertanya lebih dari 10 anak, permainan tidak akan berjalan lancar, sebab umumnya permainan ini dilakukan di dalam rumah.

Waktu Permainan :
Biasanya dilakukan saat anak-anak sedang berkumpul bersama.

Asal Permainan :
Permainan ini berasal dari Maluku
 

Cara Bermain :

Permainan ancong-ancong sangatlah sederhana, yaitu seseorang yang dipilih untuk merangkak harus menebak tangan siapa yang berada di punggungnya. Permainan ini diawali dengan pemilihan dua orang yang dilakukan secara musyawarah/mufakat. Satu orang akan dipilih menjadi perangkak dan seorang lagi menjadi pemimpin permainan (diregen). Setelah itu, perangkak akan mengambil posisi merangkak dan pemimpin permainan akan memberi aba-aba pada pemain lain untuk meletakkan kedua telapak tangan mereka pada punggung pemain yang merangkak. Khusus untuk diregen hanya meletakkan telapak tangan kirinya saja, sementara tangan kanannya akan digunakan untuk menunjuk telapak tangan pemain lainnya. Tunjukan jari tangan diregen akan berpindah-pindah dari tangan satu pemain ke pemain berikutnya. Penunjukan itu dilakukan ketika lagu dinyanyikan.  Berikut ini adalah syair yang dilantunkannya.

Ancong-ancong mpeang angkomai roi-roi
Angku tambah labu seela baelaba
Cabu ruku rukuku cabu ruku rukuku ise

Pada akhir lagu, tunjukan tangan diregen akan berhenti pada salah satu telapak tangan pemain. Pada saat itulah pemain yang posisinya merangkak tersebut akan menebak tangan siapa dari pemain yang ditunjuk oleh diregen. Apabila tebakan benar, maka pemain yang tangannya ditunjuk oleh diregen akan menggantikan posisi anak yang merangkak tersebut, namun jika tidak berhasil maka si pemain akan tetap dalam posisi merangkak dan permainan dimulai kembali.
Tanggapan masyarakat :
Belum tahu karena di daerah saya belum ada yang memainkannya.

Penentuan menang dan kalah :

Jika si perangkak berhasil menebak tangan pemain yang ditunjuk dirigen, orang yang tertebak menggantikan perangkak.
Permainan Tradisional Ancong-Ancong
4/ 5
Oleh