Kamis, 27 Juli 2017

Permainan Tradisional Koko-Koko

LATAR BELAKANG


Melihat dari nama permainan, sebenarnya nama koko identik dengan nama sebuah jenis ular air yang sedang mencari makan di air. Menurut sebuah sumber dari Sulaiman Dharmamulya, jenis permainan ini sudah berumur sangat tua, walaupun tidak ada data akurat mulai kapan, permainan ini dikenal oleh anak-anak di daerah sumatera, khususnya di Sumatera selatan. 


Sebenarnya permainan ini hampir mirip dengan dolanan ancak-ancak alis. Artinya para pemain ada yang membentuk ular-ularan. Hanya cara bermainnya yang agak berbeda. Pada permainan ini nanti, anak yang berada di posisi paling belakang yang membentuk formatur ular-ularan, akan dikejar-kejar oleh si koko. 


PERALATAN


Dolanan “Koko-Koko” tidak membutuhkan peralatan, kecuali sarung atau sabuk. Fungsi sarung atau sabuk dipakai oleh masing-masing anak yang membentuk formatur ular-ularan. Sarung/sabuk dipegang oleh pemain yang berada di belakangnya. Sementara pemain paling depan berperan sebagai Kakek/Nenek. Satu pemain lain berperan sebagai koko. Selain peralatan sarung/sabuk, dolanan ini hanya membutuhkan tanah lapang yang luas. 


PESERTA PERMAINAN


Dolanan “Koko-Koko” biasa dimainkan oleh anak laki-laki, karena membutuhkan kekuatan fisik untuk berlari. Dalam permainan ini, anak-anak yang bermain sekitar 10 anak. Lebih banyak lebih baik, karena formasi ular akan semakin panjang, sehingga membuat koko kesulitan mengejar mangsa. Mereka yang bermain  ini rata-rata berumur 8-10 tahun. Seperti pada permainan lain, permainan ini lebih sering dimainkan saat-saat waktu libur atau senggang, baik pagi, siang, sore, atau malam hari saat terang bulan. Jika dimainkan siang hari, lebih banyak dimainkan di halaman yang teduh. Sementara saat dimainkan malam hari, lebih banyak dimainkan di tanah lapang yang mudah kena sinar bulan.



CARA BERMAIN


Anak-anak yang hendak bermain permainan koko-koko misalnya ada 10 anak, yaitu A, B, C, D, E, F, G, H, I, dan J. Setelah mereka bersepakat bermain, lalu terus berkumpul di halaman rumah. Dari mereka, satu orang berperan menjadi koko, satu orang berperan menjadi kakek/nenek, dan pemain lainnya berperan sebagai anak buah kakek/nenek. Mereka bergandengan ke belakang dengan memegang sarung/sabuk yang telah dipakai di pinggang atau dikalungkan di badan. Pegangan pemain anak buah harus kuat, sebab jika sampai terlepas, maka akan menjadi pemain dadi.

Setelah semua siap, pemain yang berperan Koko-Koko (KK) dan Kakek/Nenek (K/N) melakukan dialog sebagai pembuka. Dialog seperti di bawah ini: 


K/N : Koko-koko kamu mau minta apa?

KK : Aku minta airmu.

K/N : Tempatnya apa?

KK : Daun lumbu.

K/N : Apa lehermu nanti tidak gatal?

KK : Gatal-gatal tidak apa.

K/N : Obatnya apa?

KK : Gula batu.

K/N : Kamu dapat dari mana?

KK : Lumbung padimu. Ada kelap-kelip itu apa ?

K/N : Anakku.

KK : Aku minta boleh tidak ?

K/N : TIDAK BOLEH ?!!

KK : Kalau tidak boleh,saya akan merebut! 


Setelah percakapan itu, maka koko berusaha menyambar anak kakek yang berada di paling belakang. Jika koko berlari ke arah kanan, maka ekor ular akan mengarah ke kiri. Begitu sebaliknya. Namun jika koko bisa mendekat ke ekor dan berhasil memegang pemain paling belakang, maka pemain belakang dengan sekuat tenaga memegang sarung atau sabuk. Maka terjadilah tarik-menarik yang sangat alot. Anak-anak lain berusaha mempertahankan pemain paling belakang, dan terkadang disertai suara tertawaan dari para pemain atau penonton. Jika pemain belakang bisa dilepaskan oleh si koko, berarti ia menjadi pemain jadi dan menggantikan pemain koko. Sementara pemain koko bisa bergabung ke pemain lain. 


Ada cara lain, saat si koko telah bisa mendekat ke ekor ular, maka pemain paling belakang melepaskan sarung atau sabuk dan berlari sekuat tenaga. Maka si koko segera mengejar pemain yang lari. Jika si koko bisa menangkapnya, maka pemain yang lari menjadi pemain jadi. Namun jika pemain lolos dan bergabung lagi ke posisi semula, maka si kakek/nenek berusaha lagi menghalangi-halangi si koko untuk menangkap ekornya. Begitu seterusnya hingga mereka merasa capek.



TANGGAPAN MASYARAKAT


Permainan ini mengajarkan kepada anak-anak untuk bisa hidup bersosialisasi dengan teman. Dengan permainan koko-koko ini, anak juga fisiknya lebih sehat, karena banyak berlari, melatih keberaniannya dan diajak untuk lebih sportif dan menghargai teman-temannya. Jika sedang jadi, maka harus berani menghadapinya dan tidak mudah cengeng.



PENENTUAN MENANG KALAH


Permainan ini di mainkan hanya untuk mengisi waktu luang, tidak ada pemenang maupun yang kalah.
Permainan Tradisional Koko-Koko
4/ 5
Oleh